Merah Putih Tanpa Jiwa!!!, Menelusuri Ironi Mega Proyek KDMP “Mati Suri dan Mangkrak di Pelosok Negeri”???

waktu baca 3 menit
Kamis, 2 Jul 2026 11:48 55 Totok Wahyono

Sudut Pandang Sukardi.SH – Ironi Koperasi Desa Merah Putih, Menggantung Harapan di Tengah Proyek Mangkrak Alias Setengah Hati. Mega proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang digagas Presiden Prabowo Subianto kini menyisakan tanda tanya besar. Alih-alih menjadi soko guru penggerak ekonomi rakyat, kehadiran koperasi justru diwarnai sederet ironi: dari bangunan fisik yang mangkrak, salah kelola, hingga minimnya kajian strategis sebelum eksekusi.

Euforia Peluncuran Berujung Kekosongan di Lapangan

Harapan besar tentu menyertai peluncuran serentak ribuan unit Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia. Namun, realitas di akar rumput berkata lain. Berbulan-bulan berlalu sejak peluncuran, sejumlah daerah justru melaporkan bahwa koperasi mereka sama sekali belum beroperasi. Bangunan yang digadang-gadang menjadi pusat komoditas pangan dan penggerak UMKM ini terkesan dibangun tergesa-gesa tanpa peta jalan bisnis yang jelas.

Gedung-gedung megah dibiarkan kosong, sementara fasilitas penyimpanan modern (seperti cold storage) dan sarana vital lainnya terbengkalai tak terpakai. Yang lebih memprihatinkan, ada unit koperasi yang dibangun di lokasi sangat terpencil, jauh dari pemukiman warga, dan dikelilingi medan yang sulit dijangkau. Perencanaan model top-down (dari atas ke bawah) yang ugal-ugalan ini membuktikan bahwa pemerintah kerap mengabaikan pemetaan kebutuhan dan kesiapan infrastruktur di setiap desa.

Pemborosan Anggaran dan Citra yang Tercoreng

Kritik tajam dari para ekonom terkait risiko gagal bayar dan pembengkakan anggaran tanpa arah seakan terjawab lewat kondisi riil di lapangan. Di berbagai penjuru daerah, fasilitas publik yang sangat dibutuhkan masyarakat lokal justru dikorbankan demi memaksakan pembangunan KDMP.

Pemborosan ini terasa semakin ironis ketika kendaraan operasional koperasi yang dibeli dari uang rakyat didapati melenceng dari fungsi utamanya dan menjadi sorotan viral di media sosial. Integritas kata “Merah Putih” kini seolah luntur dan kehilangan jiwanya di tangan para oknum yang serakah. Mereka yang seharusnya mengawal amanat pembangunan, justru sibuk menggerogoti anggaran demi memperkaya diri sendiri. Jika dibiarkan, proyek ini selamanya hanya akan menjadi monumen “Mangkrak“.

Selain itu, polemik dalam rekrutmen serta pelatihan calon manajer koperasi yang ditangani oleh Kementerian Pertahanan—mulai dari pemangkasan waktu pelatihan hingga revisi konsep bela negara semakin menegaskan bahwa desain kelembagaan koperasi ini sedari awal dirancang tanpa keselarasan tata kelola bisnis yang matang. Hal ini justru memunculkan persepsi bahwa KDMP sekadar proyek kosmetik mercusuar belaka.

Mendesak Evaluasi Total, Bukan Sekadar Formalitas

Pemerintah harus segera menyadari bahwa koperasi tidak bisa dibangun sekadar dengan mendirikan bangunan, membagikan kendaraan, atau meresmikan plang nama. Agar tidak menjadi proyek “bakar uang” yang membebani negara, pemerintah harus segera melakukan audit menyeluruh terhadap tata kelola dan operasional KDMP.

Pemerintah pusat perlu meninjau ulang kelayakan lokasi, memberikan pelatihan manajerial yang berfokus pada bisnis bagi pengurus lokal, dan benar-benar menyerahkan kendali penuh kepada masyarakat desa.

Jika tidak ada perbaikan tata kelola yang radikal, lambang “Merah Putih” hanya akan menjadi tameng dari sebuah kegagalan kebijakan ekonomi kerakyatan. Desa membutuhkan denyut ekonomi yang nyata, bukan sekadar monumen mati yang membebani anggaran negara.

“Artikel Karya Tulis Opini Sukardi.SH Juli 2026”

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA