SIDOARJO — Dua tahun merupakan rentang waktu yang panjang dalam penanggalan kalender, namun waktu tak pernah benar-benar cukup untuk menghapus kerinduan di hati sebuah keluarga. Bagi keluarga besar Abie Samsudin, kepergian Almarhumah Ibu Sunarsih binti Suwardi tetap meninggalkan ruang kenangan yang hidup melalui rangkaian doa, rajutan silaturahmi, dan kasih sayang yang tak bertepi.
Memperingati dua tahun wafatnya almarhumah, keluarga besar Abie Samsudin menggelar malam peringatan Yasin dan Tahlil pada Minggu (27/9/2026) malam. Acara yang dimulai selepas salat Isya sekitar pukul 19.00 WIB ini berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan di Jalan Raden Saleh RT 04/RW 02, Medaeng, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.
Tidak ada kemegahan, pun tidak diperlukan seremoni yang berlebihan. Ruangan itu hanya dipenuhi kehadiran keluarga, saudara, dan kerabat dekat yang berkumpul dalam satu ketulusan: menghantarkan untaian doa terbaik kepada sosok yang telah lebih dahulu menghadap Sang Pencipta.
Lantunan syahdu Surat Yasin, gema tahlil, dan kalimat-kalimat tayyibah menjadi inti dari peringatan tersebut. Setiap bait doa yang terucap menjadi wujud bakti dan ketulusan keluarga untuk memohonkan ampunan, kelapangan kubur, serta limpahan rahmat Allah SWT bagi almarhumah.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, mengenang dua tahun kepergian sosok tercinta bukan semata-mata tentang meratapi masa lalu. Lebih dari itu, momentum ini menjadi jalan untuk menjaga nilai-nilai kebaikan yang pernah diwariskan almarhumah semasa hidup, sekaligus mempererat simpul kekerabatan antaranggota keluarga.
Di tengah kesunyian malam dan kekhusyukan doa, memori tentang kehangatan Ibu Sunarsih kembali hadir. Bukan sebagai kesedihan mendalam yang membelenggu, melainkan sebagai sebuah bekal perjalanan keluarga yang mengajarkan tentang arti keikhlasan, ketegaran, dan pentingnya merawat tali silaturahmi.
Malam peringatan ini juga menjadi ruang bagi keluarga untuk kembali duduk bersama, saling menguatkan di tengah ruang kosong yang ditinggalkan. Sebab ketika seorang ibu telah tiada, yang tersisa bukan hanya kenangan indah, tetapi juga tanggung jawab moral bagi anak-cucu untuk terus menjaga persaudaraan dan meneruskan estafet kebaikan.
Melalui majelis zikir ini, keluarga besar Abie Samsudin berharap seluruh amal ibadah Almarhumah Ibu Sunarsih binti Suwardi diterima di sisi Allah SWT. Segala khilaf dan dosanya diampuni, serta dilapangkan jalannya menuju jannah.
“Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa Almarhumah Ibu Sunarsih binti Suwardi, menerima seluruh amal ibadahnya, melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik dan termulia di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin,” harap pihak keluarga dalam doa bersama tersebut.
Di penghujung acara, keluarga besar Abie Samsudin menyampaikan apresiasi mendalam dan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh keluarga, saudara, tetangga, serta kerabat yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan ikhlas mengirimkan doa untuk almarhumah.
Peringatan dua tahun wafatnya Ibu Sunarsih pada akhirnya menjelma menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia adalah titik temu antara kenangan dan keikhlasan, antara rasa kehilangan dan kekuatan doa, serta antara sosok yang telah berpulang dengan keluarga yang memilih untuk terus menghidupkan cintanya lewat amal jariyah.
Karena bagi mereka yang mencintai, kepergian fisik tidak pernah benar-benar menjadi akhir. Ada doa yang akan selalu dilangitkan, ada nama yang terus disebut dalam kebaikan, dan ada kasih sayang yang tetap hidup di dalam sanubari. (red)
“Al-Fatihah untuk Almarhumah Ibu Sunarsih binti Suwardi”
Tidak ada komentar