PASURUAN — Pimpinan Cabang (PC) Pagar Nusa Bangil berkomitmen menjaga keseimbangan antara ketangguhan fisik dan kedalaman spiritual kader. Komitmen tersebut dibuktikan lewat konsistensi penyelenggaraan Istighotsah dan Sholawatan rutin bulanan yang kali ini digelar di Pondok Pesantren Daruttauhid, Cangaan, Bangil, Pasuruan, Jumat (11/9/2026) malam kemarin.
Agenda spiritual yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Dewan Pembina PC Pagar Nusa Bangil Abah Zainal Suwari, Ketua PC Pagar Nusa Bangil Gus Romy Syib, jajaran pengurus cabang, serta seluruh Pengurus Anak Cabang (PAC) Pagar Nusa se-Wilayah Kerja Bangil.
Ketua PC Pagar Nusa Bangil, Gus Romy Syib menegaskan bahwa Pagar Nusa memiliki tanggung jawab besar yang tidak hanya terbatas pada aspek pencak silat semata. Ada fondasi ideologis dan spiritual yang wajib dijaga oleh setiap kader pendekar.
“Pagar Nusa tidak hanya dibangun melalui latihan fisik dan ketangguhan di gelanggang. Ada tradisi, doa, dzikir, sholawat, dan ukhuwah yang juga harus terus dirawat,” ujar Gus Romy di sela-sela kegiatan.
Berbeda dengan agenda latihan fisik, kegiatan bulanan ini dirancang khusus sebagai ruang ikhtiar batiniah. Jalannya istighotsah dan pembacaan sholawat dipimpin langsung oleh Dewan Pembina PC Pagar Nusa Bangil, Abah Zainal Suwari.
Bagi Pagar Nusa Bangil, majelis ini memiliki nilai strategis yang melampaui rutinitas keagamaan biasa. Momentum duduk bersama ini menjadi sarana krusial untuk merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sekaligus mempererat hubungan emosional antarpengurus dan anggota di semua tingkatan.
Di tengah padatnya roda organisasi dan aktivitas fisik para pesilat, kehadiran majelis ini berhasil menjadi pelekat persaudaraan (ukhuwah an-nahdliyah). Konsistensi yang ditunjukkan Pagar Nusa Bangil menjadi bukti nyata bahwa kader pencak silat NU mampu menyelaraskan kekuatan fisik, soliditas organisasi, dan ketajaman spiritual.
Melalui sinergi dari pesantren dan kekuatan majelis dzikir, Pagar Nusa Bangil membuktikan diri sebagai benteng Nahdlatul Ulama yang tidak hanya kuat dalam persaudaraan dan teguh dalam tradisi, tetapi juga istiqamah dalam mengawal serta mewariskan nilai-nilai luhur Aswaja ke generasi mendatang. (tofa)
Tidak ada komentar